Diskusi Pangudi Luhur Alumni Club

Wakil Ketua DK OJK Terpilih 2022-2027: Sektor Keuangan Mengarah ke Dunia Digital


Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Terpilih 2022-2027, yang juga merupakan alumni PL angkatan 1984, Mirza Adityaswara, menyatakan bahwa sektor keuangan mengarah ke dunia digital saat ini.


Hal tersebut diungkapkan Mirza saat menjadi pembicara dalam acara PL Alumni Club bertema 'Peluang Perkembangan Inovasi Teknologi Sektor Keuangan untuk Pelaku Usaha dan Perekonomian' yang digelar Ikatan Alumni SMA Pangudi Luhur Jakarta (IKA PL) di SMA PL, Jalan Brawijaya IV, Jakarta Selatan pada Sabtu (16/7).


Menurutnya, demografi atau pertumbuhan populasi yang membuat Indonesia memiliki banyak generasi muda akan membuat sektor keuangan harus memahami dunia digital, salah satunya penggunaan berbagai platform media sosial.


"Penduduk Indonesia masih menikmati demografi. Tentu, kalau teman-teman di bisnis keuangan melihat bahwa yang populasi ini adalah potensi bisnis di asuransi, fintech [financial technology), dan sebagainya," kata Mirza.


"Sekarang semuanya mengarah ke digital dan faktanya semua harus paham digital pakai TikTok dan sebagainya. Generasi muda begitu, mau enggak mau arahnya ke sana," sambungnya.


Ia menerangkan, pemerintah atau regulator tak bisa lagi berkomunikasi dengan menggunakan media masa di saat ini.


Ia menyebut, pemerintah atau sektor privat lainnya harus menggunakan cara komunikasi generasi muda bila ingin menyosialisasikan kebijakan atau menjual produknya.


Dulu regulator pemerintah berkomunikasi dengan masyarakat dengan koran konvensional, sekarang karena masyarakat berusia muda mengkomunikasikan policy pakai instagram dan tiktok tapi masih ada di kompas, tapi pembacanya sudah sedikit.


Ia mencontohkan, kondisi kripto dalam lima tahun silam di mana asosiasi bank sentral berusaha mencegah kripto.


Menurutnya, hal tersebut tidak bisa dilakukan karena banyak masyarakat sudah terlanjur menginvestasikan uangnya di sejumlah toko kripto.


Mirza berkata, langkah tepat yang bisa dilakukan pemerintah dalam menyikapi perkembangan kripto ialah membuat regulasi baru serta mengedukasi masyarakat.


"Sekarang investasi di kripto sudah ada, bahkan cukup banyak. terus kalau ada uang di situ terus kita larang bank tidak boleh fasilitasi kripto, kemudian yang sudah ada di dalam gimana? Serba salah regulator itu, masyarakat sudah ada uangnya di situ," ujarnya.


Di sisi lain, Mirza sempat menyampaikan bahwa bank-bank di Indonesia akan lebih besar dari market cap atau kap pasar.


Menurutnya, banyak bank yang masuk ke Indonesia di masa mendatang, meski jumlah yang masuk sudah banyak saat ini.


Ia juga mengatakan bahwa perkembangan digital bank masih terus terbuka di masa mendatang. Menurutnya, hal itu terjadi karena faktor gaya hidup generasi muda dan investor.


"Jadi bank konvensional punya afiliasi digital bank. bank konvensional merasa perlu digital bank, padahal sudah melakukan digitalisasi. Mungkin karena melihat masa depan yang muda-muda, anak-anak kita, itu banking-nya yang berbunyi digital," tambahan dari sosok yang merupakan kakak kelas dari Bambang Brodjonegoro dan Sandiaga Uno di SMA ini.


"Kayaknya investor di pasar modal, melihat bank punya digital bank punya nilai lebih, meskipun saat ini masih merugi," Ungkap Mirza


Sementara itu, Ketua Umum IKA PL Stephen Igor Warokka mengaku senang bisa menggelar diskusi PL Alumni Club bertema 'Peluang Perkembangan Inovasi Teknologi Sektor Keuangan untuk Pelaku Usaha dan Perekonomian' secara tatap muka untuk pertama kalinya.


Ia meyakini, diskusi ini akan bermanfaat bagi seluruh alumni SMA PL


"Senang sekali bisa mengadakan acara diskusi PL Alumni Club yang kembali diadakan secara offline setelah pandemi melanda, dengan topik yang sangat relevan dengan perkembangan sektor keuangan saat ini dan tentunya sangat bermanfaat bagi anggota IKA PL lintas generasi," ucapnya.


Ia pun berharap, peserta diskusi yang hadir, baik yang telah berkecimpung di sektor keuangan atau memiliki usaha bisa mendapatkan pengetahuan tambahan dari narasumber yang sudah tidak diragukan lagi pengalaman dan pengetahuannya tersebut.


Penulis: Martahan Sohuturon/PL 2008